<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>KawanTUHAN</title>
	<atom:link href="http://acinmuhdor.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://acinmuhdor.wordpress.com</link>
	<description>Saatnya merenung tentang TUHAN dan Ketuhanannya</description>
	<lastBuildDate>Fri, 16 Dec 2011 12:38:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='acinmuhdor.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/f3688f03552dd87fb41d222ea3c4ca38?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>KawanTUHAN</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://acinmuhdor.wordpress.com/osd.xml" title="KawanTUHAN" />
	<atom:link rel='hub' href='http://acinmuhdor.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kesadaran Logis (Materialisme dan Modernisme)</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/14/kesadaran-logis-materialisme-dan-modernisme/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/14/kesadaran-logis-materialisme-dan-modernisme/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 20:12:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Sebelumnya harus disadari, bahwa Materialisme tidak memiliki hubungan relasional dengan Modernisme. Materialisme adalah salah satu ideology yang menitikberatkan pada eksistensi material, tidak mengakui dan mempercayai hal-hal yang bersifat Non materi, menganggap bahwa “Keyakinan” atau “Kepercayaan” adalah suatu hal yang niscaya, tidak perlu terlalu sistematis dalam membahas segala sesuatu yang instingtif seperti, lapar, haus, curiga, kecewa, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=163&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p>Sebelumnya harus disadari, bahwa Materialisme tidak memiliki hubungan relasional dengan Modernisme. Materialisme adalah salah satu ideology yang menitikberatkan pada eksistensi material, tidak mengakui dan mempercayai hal-hal yang bersifat Non materi, <span id="more-163"></span>menganggap bahwa “Keyakinan” atau “Kepercayaan” adalah suatu hal yang niscaya, tidak perlu terlalu sistematis dalam membahas segala sesuatu yang instingtif seperti, lapar, haus, curiga, kecewa, sedih, senang, dll.</p>
<p>Dalam pandangan Realisme hal ini tentu saja akan terjadi, karena pada dasarnya, hal-hal terkait instingtif adalah elemen yang tidak bisa dikaji dari sudut pandang Materialisme, bahkan akan menjadi kehancuran besar bagi setiap penganutnya apabila mereka menyadari akan ketidak validan pola mereka dalam menanggapi realitas.</p>
<p>Dewasa ini, yang seringkali terjadi adalah, kesalah pahaman manusia dan pemuda pada khususnya, mereka menganggap bahwa  Modernisme adalah efek turunan yang dihasilkan oleh pandangan Materialisme, dan mereka menganggap bahwa keduanya adalah eksistensi yang bersifat relasional. Secara sederhana kita akan membuat perumpamaan hal-hal yang memiliki status hubungan relasional. Ketika kita telah memahami akan wujud Realitas, kita juga harus mengetahui bahwa Realitas ada yang bersifat Relasional dan ada yang bersifat Koheren. Realitas relasional adalah konsep pembuktian akan eksistensi berdasarkan kesesuaian antara persepsi reel dengan wujud eksternal yang ada.</p>
<p>Sebagai contoh, ketika dalam jamuan makan yang diadakan disebuah hotel bintang lima, kala itu kita sebagai tamu yang telah menerima undangan sejak 4 hari sebelumnya. Kita tentu akan berkhayal atau membangun persepsi kita tentang nuansa serta kondisi tempat jamuan tersebut atau jenis makanan yang akan disajikan dalam jamuan makan itu. Pada waktu pelaksanaan makan-makan, terjadi kesesuaian antara persepsi dengan realitas yang ada. Realitas yang digambarkan barusan adalah Realitas relasional, yaitu keterkaitan serta kesesuaian antara persepsi personal dengan wujud eksternal.</p>
<p>Materialisme hanya sebuah ideology yang terkonsep. Modernisme adalah konsep yang tidak memiliki kaidah hukum atau aturan tertentu, Modernisme bukanlah suatu ideology yang meniscayakan sikap, karena tidak ada ideology yang terbentuk oleh konsep yang tidak terbangun atas kesadaran serta aturan-aturan yang disepakati. Modernisme hanya sekumpulan persepsi yang terbentuk atas pandangan kondisi Ke”kini”an atau yang lebih umum kita sebut sebagai Kondisi Ke”sekarang”an.</p>
<p>Bagi para penganut faham “Persepsionis”, kita sebut saja “Persepsionitas”, yaitu orang-orang yang menuhankan persepsi pribadi, hal-hal demikian tidak terlalu penting dan tidak layak untuk dikaji, karena pembahasan terkait Materialisme dan Modernisme memiliki dampak besar bagi rapuhnya persepsi mereka. Ini fakta, actual dan terpercaya.</p>
<p>Mulai membangun kesadaran Realisme dari pemahaman seperti ini. Seseorang yang normal akan berusaha untuk membangun jati diri mereka, agar dapat diterima oleh zaman dan kondisional masing-masing. Ini hal yang wajar dan Valid. Permasalahannya adalah, apakah kepribadian yang proporsional dapat terbentuk apabila manusia mengaitkan dua elemen barusan?. Yang terjadi saat ini dalam ranah remaja adalah, mereka berlomba-lomba untuk membentuk karakter mereka dengan pola yang tidak realistis, serta merta menyampur adukkan antara kepentingan personal dengan realitas yang ada, tidak memahami standar kevalidan “Karakteristik” yang wajar.</p>
<p>Salah satu contoh, ketika mendengar kata “Idola”, yang terpikir dibenak mereka adalah eksistensi wujud manusia yang terkenal dan memiliki popularitas dizaman sekarang. Ini adalah bukti akan degradasi kesadaran para pemuda saat ini dalam memahami konsep yang luas. “Idola” adalah konsep persepsi mengarah kepada Personal, yang hadir berkaitan dengan suatu keterampilan atau kemahiran. Tidak lebih dari itu.</p>
<p>“Manusia yang populer di zaman sekarang” adalah persepsi yang muncul ketika mendengar kata “Idola”. Kalau diperhatikan, dalam  kalimat bertanda kutip diatas, terjadi penggabungan dua elemen yang berbeda, “Manusia yang populer” adalah indikasi material yang terbangun dari pandangan materialisme, sedangkan “dizaman sekarang” adalah pandangan Modernisme yang dipaksakan untuk menyesuaikan konsep dengan Materialisme.</p>
<p>Ketika kebobrokan pemahaman ini berlanjut, maka yang terjadi adalah, setiap manusia akan berupaya untuk mencari wujud “Material” dan memperhitungkan masa axistnya terkait dengan zaman sekarang. Bukan hanya itu, ketika kesadaran seperti ini tidak diperhitungkan, maka mereka akan menjadi manusia yang tidak memiliki karakter serta kepribadian yang wajar, dan akan menduduki posisi yang sama dengan mereka yang telah kehilangan kesadaran logisnya.</p>
<p>Segala sesuatu tidak harus dikaitkan dengan wujud “Materi”, tidak juga dikaitkan dengan Ke”Kini”an, semua harus berawal dari kesadaran logis serta pengertian mendalam akan kata atau konsep dimensi kondisional yang selalu mengitari kehidupan.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=163&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/14/kesadaran-logis-materialisme-dan-modernisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasionalisme Bukanlah Konsekuensi Anak Bangsa</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/13/nasionalisme-bukanlah-konsekuensi-anak-bangsa-2/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/13/nasionalisme-bukanlah-konsekuensi-anak-bangsa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 20:01:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[Ingat pada saat Tim Nasional Indonesia mengalahkan Kamboja dalam laga terakhirnya di Sea Games pada tahun 2011 kemarin. Sorak sorai dari para pendukung bangsa sangat bergema sampai pertandingan berakhir, dan seketika pada waktu itu nuansa disulap oleh para pendukung bangsa dengan symbol khidmat berwarna merah, suara dari pendukung tim lawanpun tidak bergema karena terharu oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=160&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ingat pada saat Tim Nasional </strong><strong>Indonesia</strong><strong> mengalahkan Kamboja dalam laga terakhirnya di Sea Games pada tahun 2011 kemarin. Sorak sorai dari para pendukung bangsa sangat bergema sampai pertandingan berakhir, dan seketika pada waktu itu nuansa disulap oleh para pendukung bangsa dengan symbol khidmat berwarna merah, suara dari pendukung tim lawanpun tidak bergema karena terharu oleh antusiasme dari para anak bangsa.<span id="more-160"></span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> Kalau diamati secara mendalam, kita akan seringkali menemukan hal-hal semacam ini, yaitu ekspresi avektif yang menggebu-gebu oleh anak bangsa apabila Negara tercintanya bertanding melawan bangsa lain dalam laga pertandingan apapun. Dari hal semacam inipun dapat dilihat bagaimana antusias para pendukung bangsa serta pengorbanan sederhana yang mereka lakukan kepada bangsanya. </strong><strong>Ada</strong><strong> beberapa hal berkenaan dengan subtansi dari Nasionalisme itu sendiri yang akan dibahas di artikel sederhana ini. Secara umum, Nasionalisme dapat diartikan sebagai suatu paham pemikiran yang menciptakan serta mempertahankan kedaulatan sebuah Negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Dalam hemat saya, hal ini terlalu kompleks dan tidak karuan, pengertian dari “Mempertahankan Kedaulatan” adalah bentuk yang sifatnya aplikatif serta merupakan sebuah aksi yang berujung pada vandalisme. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Menurut bapak Proklamator yang kita kenal dengan sebutan Bung Karno, beliau menghimbau bahwa Nasionalisme Negara kita bukan lah Nasionalisme Chauvinisme, yaitu Ideologi yang mengatasnamakan <em>Humanisme </em>yang secara implikatif lebih menunjukan sisi komunisme yang kemudian akan berakhir dalam detak jantung kapitalis. Menurut beliau, Nasionalisme Negara ini adalah Nasionalisme yang memprakarsai agar nilai ketuhanan dapat terjaga, membuat setiap anak bangsa hidup dalam ruh yang positif, sebagai deklarator untuk mencetuskan anti Kapitalisme dalam setiap pribadi mereka, dan suatu tuntutan moral agar selalu dalam perjuangan kepada kemerdekaan bangsa.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pernyataan ini sepertinya jarang diungkap oleh pihak media, sekalipun media yang mengatasnamakan kepentingan bangsa. Sehingga anak bangsa yang begitu polos lebih mengartikan bahwa Nasionalisme hanya sebuah partisipasi dalam event kompetitif yang melibatkan Negara ini. Saat ini Nasionalisme Negara kita lebih layak disebut sebagai Nasionalisme <em>Kompetism </em>atau Nasionalisme <em>Eventism</em>. Nasionalisme yang menggebu-gebu ketika pertandingan olahraga atau event-event tertentu. Sangat memilukan, tapi beginilah kenyataannya. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Berangkat dari kesadaran personal, Nasionalisme bangsa bukanlah rasa iba karena tekanan dari tangan-tangan kapitalis yang terus mengusik ketentraman Negara ini, Nasionalisme bukan suatu bentuk pengorbanan utilitas, yaitu pengorbanan yang berakhir pada suatu harapan agar mendapatkan sebuah penghargaan moral, bukan juga persepsi tentang bagaimana Negara ini dapat terbangun kembali dengan pola yang lebih memanjakan bangsa sebagai bentuk komplen terhadap para pemerintah. Pada faktanya, ini yang lebih menyibukkan kita.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Semua harus berawal dari kesadaran, kita menginjakkan kaki di negeri Bhineka, negeri Maritim, negeri yang kaya akan budaya dan sumber daya. Nasionalisme bukan lah konsekuensi karena kita menduduki Negara ini, karena itu adalah suatu keterpaksaan, apabila aplikasi terbentuk karena suatu bentuk keterpaksaan, maka tidak akan terjalin simbiosis yang berkelanjutan. </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kesadaran akan betapa pentingnya berkorban dalam segala aspek kehidupan termasuk pengorbanan ideology dan metasifisik adalah jawaban atas munculnya Nasionalisme dalam diri. Dimana kita akan menempatkan diri?, apa yang telah kita perbuat untuk Negara ini?, apakah kita telah benar-benar merdeka?. Kemerdekaan suatu bangsa adalah kemerdekaan realistis yang telah dimiliki oleh seluruh anak bangsa, kemerdekaan yang menghadirkan penuh kesadaran individu untuk menjadi pribadi yang lebih berpengaruh, bukan persepsi, tapi tindak-tindak tanduk yang terus terarah pada kemajuan dengan harapan mencapai kemakmuran bangsa. Hal positif yang kita lakukan apabila tidak terbangun dari kesadaran akan nilai essensinya, maka hanya akan membuahkan kelelahan dan tidak akan mengakar pada generasi selanjutnya serta yang terjadi hanyalah kebaikan “Perseptual” tiada arti.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=160&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/13/nasionalisme-bukanlah-konsekuensi-anak-bangsa-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meruntuhkan Persepsi Emosional serta Membangun Prinsip Validitas</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/13/meruntuhkan-persepsi-emosional-serta-membangun-prinsip-validitas/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/13/meruntuhkan-persepsi-emosional-serta-membangun-prinsip-validitas/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Nov 2011 19:58:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Barangkali—baik disadari maupun tidak, kebanyakan orang di era modern ini telah dipengaruhi oleh sebuah “gerakan akademis” yang sering disebut postmodernism. Yakni sebuah gagasan yang beranggapan bahwapandangan dunia itu subyektif; realitas dan kebenaran itu relatif dan kita (baca: manusia) tidak mungin bisa sampai kepada kebenaran hakiki. Dalam postmodernism, apa yang nampak sebagai realitas itu sebenarnya hanya efek konstruksi sosial [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=157&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Barangkali—baik disadari maupun tidak, kebanyakan orang di era modern ini telah dipengaruhi oleh sebuah “gerakan akademis” yang sering disebut <em>postmodernism</em>. Yakni sebuah gagasan yang beranggapan bahwa<em>pandangan dunia</em> itu subyektif; realitas dan kebenaran itu relatif dan kita (baca: manusia) tidak mungin bisa sampai kepada kebenaran hakiki. <span id="more-157"></span>Dalam <em>postmodernism</em>, apa yang nampak sebagai realitas itu sebenarnya hanya efek konstruksi sosial di masyarakat yang pada akhirnya akan berganti seiring berjalannya waktu dan perubahan tempat. Jika demikian halnya, maka pada tahap ini, mungkinkah bisa dibilang bahwa kita adalah “korban sosial-budaya” <em>postmodernism</em> itu sendiri? … Mungkin saja kan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Disamping itu, apabila perkembangan berpikir kita saat ini memang <em>minus</em>aktivitas intelektual dan lebih didominasi oleh “efek sosial-budaya” yang telah tumbuh di masyarakat, maka topik seputar pertumbuhan pola berpikir kawula muda dan hal-hal yang terkait dengan masa depan kepemudaan itupun menjadi tema-tema krusial yang perlu dicermati bersama. Di era sekarang ini setidaknya layak diakui bahwa kepemudaan memang merupakan tema yang cukup diminati, sehingga cocok pula untuk diperbincangkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ada beberapa hal yang menjadi sorotan kajian dan merupakan bahan telaah yang cukup unik dan sepertinya sangat asing bila ditendensikan pada zaman sekarang. Perspektif bukanlah barometer suatu kebenaran sekalipun dalam konteks pribadi, karena pada dasarnya, yang menyelimuti eksistensi dari Perspektif itu sendiri adalah emosional yang tidak terbendung serta sampai ketahapan yang dimana kepribadian seseorang terbentuk hanya karena perspektif individualnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Komunikasi adalah alat utama dalam menjalin interaksi dan <em>Source</em> sangat berpengaruh dalam menciptakan kondisi apapun termasuk membentuk Persepsi personal manusia. Dalam interaksi pemuda, sangat jelas terlihat bagaimana sikap yang polos dan serta merta menggambarkan kelemahan, kelembutan, keunikan, dan betapa istimewanya mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sangat banyak manusia khususnya para pemuda yang kepribadiannya merupakan prodak dari pabrik persepsi tanpa barometer yang valid. Tanpa memahami konsep kosmik, mereka menjalin interaksi Nonsistemik yang mengantarkan pada pemahaman sempit bahwa “Dunia tidak sementara”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pemahaman seperti itu mungkin dapat dikatakan baik apabila terkait dengan kewirausaahaan atau kinerja suatu system terkait ekonomi, tapi tidak bisa dijadikan pola pikir Mayor yang kemudian melekat dalam diri serta berkuasa atas semua dimensi personal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pada kenyataannya, “Prinsip” adalah dimensi paling fundamental untuk mempertahankan Essensi diri, menjadi tolok ukur dalam menyingkapi banyak hal, dan bahkan menjadi supra eksistensi yang melebihi apapun yang ada.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah <em>Prinsip</em> itu?. Apakah Prinsip bersifat abstrak atau non Abstrak?, Inheren atau Ekstern?. Sudah semakin jelas, bahwa masalah ini adalah titik kajian kita. Pemuda pada umumnya secara real, telah banyak mengumbar Prinsip personalnya, mengutarakan prinsip personalnya sekalipun dalam konteks yang tidak serius. Jika kita kaji lebih dalam, Prinsip itu adalah sesuatu yang tidak terkait dengan materi, bersifat abstrak dan Inheren, Fundamen dan sacral. Sistem kajian untuk membahas hal demikian tidak bisa dilakukan secara nonsistemik karena dapat terjadi kerancuan dalam pemahaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah kita menyadari bahwa Prinsip adalah sesuatu yang Inheren dalam diri, maka apa yang menjadi barometer kita untuk mempertahankan prinsip personal?. Sesuatu yang sifatnya Inheren bukan Menu Sarapan istimewa yang berada dibalik tutup saji yang bisa dinikmati oleh setiap orang. Konsep itu harus tersusun rapi dalam benak dan harus selalu dipertanyakan kevalidannya. Sering saya temukan dalam perbincangan antar pemuda dalam membahas suatu masalah, mereka acap kali menggunakan senjata prinsip agar tidak dapat di klarifikasi oleh rekan bicaranya. Pertanyaannya adalah. Jika Prinsip itu adalah hal yang Inheren, maka apa barometer kebenaran prinsip tersebut?. Sangat realistis, Prinsip seringkali menduduki posisi yang kurang lebih adalah posisi Emosional, dalam arti, penggunaan kalimat seperti “Ini adalah prinsip saya” lebih cocok ketika dikatakan “Ini adalah emosional saya”. Emosional tidak terbangun atas pengetahuan, ketika yang kita sebut :”Prinsip” memiliki kualitas yang demikian, maka kita akan terus menjadi manusia yang dikualifikasikan oleh “Emosional”. Malah bisa jadi orang yang sering mengutarakan dan membanggakan Prinsip personal yang telah terbangun atas dasar persepsi sederhananya adalah orang-orang yang tidak memiliki Prinsip sama sekali, bahkan ia adalah budak emosionalnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam ranah Intelektual, hal ini sangat penting, karena kebenaran tidak bersifat perseptual tapi real dan dapat dibuktikan. Pola berfikir yang salah dapat mengantarkan kita kepada kesalahan mendasar yang menyebabkan kita menjadi manusia yang kering dan gelap dari cahaya kebenaran. Semoga dalam kajian sederhana terkait Peran Persesi dapat memberikan sedikit Sumbangsih pencerahan bagi setiap pembaca agar berhati-hati dalam menggunakan perspektif yang tidak terbentuk oleh pengetahuan dan dasar logika yang benar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=157&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/13/meruntuhkan-persepsi-emosional-serta-membangun-prinsip-validitas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal &#8220;Realitas&#8221; demi Menciptakan Kenyamanan Personal</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/03/mengenal-realitas-demi-menciptakan-kenyamanan-personal/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/03/mengenal-realitas-demi-menciptakan-kenyamanan-personal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 22:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[Dalam era Modern, banyak sekali orang-orang yang merasa bingung dengan apa yang dianggapnya sebagai realitas. Kekurangan pemahaman adalah salah satu faktor penyebab kegelisahan diri. Pandangan dunia yang salah juga bisa dikatakan sebagai kontribusi pada ruang kegelisahan yang ada dalam diri manusia. &#160; Saya akan mencoba memberikan pemahaman sedikit tentang apa yang dimaksud dengan “Realitas”. Realitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=152&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam era Modern, banyak sekali orang-orang yang merasa bingung dengan apa yang dianggapnya sebagai realitas. Kekurangan pemahaman adalah salah satu faktor penyebab kegelisahan diri. Pandangan dunia yang salah juga bisa dikatakan sebagai kontribusi pada ruang kegelisahan yang ada dalam diri manusia.<span id="more-152"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya akan mencoba memberikan pemahaman sedikit tentang apa yang dimaksud dengan “Realitas”. Realitas adalah Eksistensi real yang bersifat eksternal dari diri manusia, penggambarannya sangat simpel. Ketika kita dihadapkan pada secangkir kopi hangat didepan kita, yang pertama kita lakukan adalah menyusun persepsi agar keyakinan kita sampai pada batas real, sehingga kita tidak segan-segan untuk menyeruput kopi tersebut. Dari penggambaran barusan yang menjadi realitasnya adalah secangkir kopi yang ada dihadapan kita, bukan persepsi pribadi kita tentang secangkir kopi tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Banyak sekali manusia yang terjebak dalam keadaan seperti ini, sehingga mereka meyakini hal-hal yang Non realitas, mereka menuhankan persepsi pribadi dan menjadikan persepsi pribadinya sebagai realitas itu sendiri. Hal ini tentu sangat keliru, karena sesuatu yang bersifat perseptual belum bisa dikatakan sebagai realitas sebelum ada eksistensi real yang bersifat eksternal yang dapat dicapai oleh logika realisme.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Fakta membuktikan, bahwa sebagian besar pemuda, khususnya pemuda metropolitan, mereka mengalami degradasi pemahaman sehingga menimbulkan efek yang sangat buruk dan memberikan gangguan pada pikiran serta kenyamanan hidup, Diantaranya adalah, mereka sulit membedakan apa yang realitas dan apa yang ilusif, mereka kerepotan oleh konsep utopis yang mengganjal dibenak tanpa pondasi berbasis pengetahuan, mereka sibuk memikirkan hal-hal yang pada dasarnya “Tidak ada” serta terbiasa untuk memaksakan hal-hal yang pada dasarnya adalah &#8220;Realitas&#8221; untuk menyamai persepsi individualnya dan Pada akhirnya mereka menuhankan persepsi serta menjadi pribadi yang kering dari realitas itu sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya akan mencoba mengulas sedikit pembahasan terkait fakta yang ada. Jika Realitas adalah sesuatu yang bersifat eksternal, maka dapat dikatakan bahwa sesuatu yang inheren dalam diri manusia adalah perseptual, dalam ranah ilmiah kita katakan “Ilusi” atau “Utopia”, dalam ilmu filsafat dikatakan “non eksistensial”, dalam bahasa umum biasa kita gunakan “Khayalan”. Sudah semakin jelas, bahwa selain wujud eksternal, maka itu bukan “Realitas”. Dan kapan sesuatu dapat dikatakan sebagai “Realitas”?, tentu ketika apa yang telah terbangun dalam pikiran sesuai dengan faktual yang ada. Dari pemahaman barusan, dapat diambil kesimpulan, bahwa manusia yang normal dan berideologi realisme, mereka tidak akan bergelut atau berkutat pada konsep yang tidak real, mereka niscaya akan memperkuat konsep pemikiran mereka dengan “Realitas” itu sendiri, mereka tidak akan kerepotan dengan sesuautu yang ilusif serta tidak akan menjadi pibadi yang egois.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika anda pernah melihat seorang pemuda yang memiliki kedermawanan, ramah tamah dan memiliki kualitas kepribadian yang baik secara kasat mata, maka hal itu juga harus dipertanyakan. Tidak sedikit pemuda yang memiliki pribadi demikian, ketika dalam kesendirian mereka merasa gelisah, bosan, bingung dan seakan tidak memiliki topangan dalam hidup. Bukan hanya mereka, dalam beberapa kesempatan kita juga sering mengalami hal seperti itu, bukan begitu?.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam kondisi seperti ini, dapat kita tarik beberapa point, yaitu, yang pertama. Pemuda tersebut tidak mengerti akan “Realitas”, selalu bergantung pada hal yang bersifat “ilusif”, sangat jelas, ketika ia merasa gundah dengan hal-hal inheren, maka ia tidak mengenal “Realitas” dan menganggap bahwa Realitas adalah apa yang ada dalam dirinya, ia acuh dengan eksistensi alam dan kondisi eksternalnya, ia berkutat dengan sesuatu yang pada dasarnya “Tidak ada”. dan selanjutnya kesimpulan yang bisa diusung adalah “Perbuatan baik yang selama ini dilakukan oleh manusia seperti itu adalah formula untuk melegakan emosi personalnya” (baca: Egois).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tanpa mengenal &#8220;Realitas&#8221; tidak akan tercipta kenyamanan Personal, setelah mengenal  “Realitas”, sepertinya gangguan inheren akan tidak potensial untuk hadir dan semakin jauh dari eksistensi diri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=152&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2011/11/03/mengenal-realitas-demi-menciptakan-kenyamanan-personal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asparaka dan Menjelang Malam</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/10/26/asparaka-dan-menjelang-malam/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/10/26/asparaka-dan-menjelang-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Oct 2010 16:40:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[“Proses menuju kesempurnaan adalah segalanya, segala problema yang merekah itu disebabkan karena adanya harapan realistis yang menghujani hati dan disetujui oleh akal. Hidup bagaikan pedang yang tumpul dan setiap kita adalah penanggung jawab akan tajamnya sang pedang dan menjadi pemain lincah pedang kehidupan dengan harapan mulia nan nyata. Perjalanan setiap yang berakal memang indah apabila [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=148&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Proses menuju kesempurnaan adalah segalanya, segala problema yang merekah itu disebabkan karena adanya harapan realistis yang menghujani hati dan disetujui oleh akal. Hidup bagaikan pedang yang tumpul dan setiap kita adalah penanggung jawab akan tajamnya sang pedang dan menjadi pemain lincah pedang kehidupan dengan harapan mulia nan nyata. Perjalanan setiap yang berakal memang indah apabila disadari dan menguasai keadaan, bukan dikuasai olehnya, karena berapa banyak manusia-manusia bodoh yang hidup mewah dan dikuasai oleh kemewahannya, bahkan dihancurkan oleh kemewahannya. Sungguh harta yang berharga adalah yang bisa menjaga kehormatan pemiliknya”. Itulah syair yang pernah dituliskan olehnya di kertas sederhana di sore menjelang tenggelamnya sang raja siang kala itu.<span id="more-148"></span><br />
Persada sore mulai menampakkan diri dengan keberaniannya dalam bercakra, matahari yang berdiri tepat diatas kepala penjaring debu dan gemuruh ombak yang menghiasi laut Tuhan sepertinya telah menempati posisi yang nyaman. Dia mulai tatap kembali langit sang pencipta kehidupan dengan penuh harap. Matahari hadirkan suasana mesra dengan pergerakan lambat dan arah yang semakin mendekati laut. Seorang pemuda penuh harap dengan gaya sederhana dengan tenang duduk dipesisir pantai dengan memandang tajam gerak matahari yang semakin mendekati badan samudera. Ia tidak menghiraukan ribuan gemuruh debu yang menampar wajah rusuh yang berhias sedikit jenggot dan jambang sang pengawal diri. Gitar kayu tua dengan secangkir kopi panas dan sebatang rokok tidak pernah lepas menemani iringan hidupnya. Suasana masi berkabung senja dan mataharipun tinggal setengah badan. Tak henti pemuda itu melempar batu ketengah laut dan sampai satu batas tertentu dimana batu itu tak bisa lebih jauh lagi dan ia berteriak parau.<br />
“Wahai Tuhan! Aku mulai merasakan keberadaanmu saat ini, kaulah yang meletakkan kekuatan dalam diriku sehingga aku sangat faham bahwa kekuatanku hanya sampai disini”. Dan ia pun kembali memetik gitar tua dengan sangat piawai, itulah gitar warisan ayahnya yang telah pergi menyongsong akhir pada waktu silam.<br />
Tatapan tajam saat ini tertuju pada matahari yang setengah badannya telah meredup ditelan dahsyatnya kekuatan laut dan sepertinya akan hilang tertutup tabir kebodohan dan ia pun kembali menjerit.<br />
“Hey matahari! Dahulu kau sempat mengaku Tuhan bukan?. Saat ini kukatakan bahwa kau bohong, kau lihat dirimu, kau hanya partikel sederhana yang dikuasai oleh Tuhan pemilik alam dan sepertinya aku lebih pantas sebagai Tuhan karena aku menyaksikan ketenggelamanmu”.<br />
Begitulah tingkah seorang Cingah, seorang pemuda pemberani, ceria, pandai menghadapi selaksa kehidupan dan memiliki antusias dalam menyingkap apa yang sebenarnya ada dalam alam Tuhan ini</p>
<p>.<br />
“Tung!” Minuman kaleng kosong terkena kepalanya, segerombolan para pemabuk yang tak sengaja membuang bekas kaleng itu sembarangan dan terkena kepala CIngah. Cingah berdiri dengan sigap dan mengarahkan pandangannya kearah gerombolan manusia-manusia itu dan berteriak. “Wahai manusia-manusia yang telah menghinakan diri! Ketahuilah! Bahwa perbuatan kalian kelak akan berupa wujud yang akan menyengsarakan diri-diri kalian”. Dan kemudian tenang.<br />
Matahari telah hilang dan mempersiapkan diri untuk menghiasi pagi dikeesokan hari, derakan pasir-pasir pantai mulai terasa berat menampar kulit, gemuruh ombak menandakan keberanian yang sangat dari penguasa sang ombak, garis merah yang mulai memudar dan berganti hitam mulai dapat disaksikan dengan kasat mata, dan pasangnya air mulai hadir. Cingah berjalan kearah pemukiman dekat pantai dengan bergantungkan tas kecil hitam dengan sedikit sambungan tali tambang berwarna putih yang menjadi ciri khas kepemilikannya dan gitar tua yang menggantung dibelakangnya.<br />
Ada tempat kecil yang berhiaskan kesederhanaan dengan berkilau warna pasir yang menyelubungi tempat itu, kamar yang hanya bermuatkan beberapa buku bacaan dan seperangkat alat sholat dengan tanpa terdapat Al-Qur’an didalamnya, berpondasikan batu kali, batu bata dan adonan semen yang telah kering yang diukir dengan ceroboh, tatanan bangunan yang  tak layak ditempati, kamar kecil bersih yang mengandung sejuta kenangan dalam hidup Cingah dan dipintu kamar itu bertuliskan “Kawasan bebas Tuhan” dan hanya Cingah yang memahami maksudnya. Ditempat inilah Cingah tinggal, ditempat inilah Cingah menyendiri dan menghibur dirinya dengan dirinya, ia menamakan tempat ini dengan sebutan “Asparaka”. Ya!! Asparaka namanya, ia menamai tempat ini dengan nama itu.<br />
Malam telah menyelimuti, dengan iringan petikan senar gitar yang dimainkan merdu oleh Cingah, gerak angin yang kabarkan akan keesaan Tuhan sangat dapat dirasakan ditempat ini. Cingah duduk sendiri di pelataran Asparaka menghadap kelaut dari kejauhan, tak ada kawan yang menemani, petikan gitar menambah merdu dan mesra suasana pada malam itu. Kemudian petikan gitar itu seketika berhenti dan Cingah mengambil  bongkahan kayu basah yang tercecer dihadapannya dan beranjak semakin mendekati pantai dan ia menuliskan kata-kata diatas pasir.<br />
“Kumulai tatap kembali langit Tuhan, dan kunanti gerak angin yang bertiup tuk kabarkan keberadaanmu wahai sahabat. Tuhan telah menyendiri dalam damai dan aku menyendiri dalam kekurangan”.<br />
Cingah merasakan kesepian karena tak ada sahabat yang menemani, sikap yang terlalu idealis memang melekat dalam diri seorang Cingah dan bukan hanya itu, Cingah juga memiliki rasa sosialis yang sangat tinggi, hanya saja cara yang ia lakukan terkadang tidak bisa diterima oleh kebanyakan orang. Tapi begitulah ia. Ia sudah terbiasa hidup seperti ini, halangan dan rintangan adalah makanan sehari-harinya, ejekan dan cemoohan adalah bukti kehidupan Cingah dan ia tidak pernah manjadikan hal-hal semacam itu sebagai beban batin karena Cingah beranggapan bahwa semua yang ada akan terbalaskan, karena Tuhan yang adil tidak mungkin membiarkan keadaan terus seperti ini dan Tuhan telah memberikan rasa dalam diri manusia akan cintanya terhadap keadilan dan Cingah meyakini bahwa Tuhanlah solusi dari permasalahan-permasalahan itu. Hadirkan suasana bahagia dalam kolom kehidupan, rasakan indahya bahagia dari penyelesaiian terhadap berbagai masalah. Nestapa selaksa luka dan inilah kehidupan. Sungguh kehidupan yang tidak pantas dilewati oleh siapa yang berakal jika tidak dihiasi dengan bala dan musibah.<br />
Tuhan telah memberikan rasa “Cinta kekal” dalam diri manusia dan telah melekat pada sebagian besar bahkan sangat sebagian besar dan Cingah meyakini bahwa ada hari kekal yang telah disediakan Tuhan untuk seluruh yang berakal dan hal ini adalah hasil dari pemikiran setiap mereka yang berakal yang pemikirannya telah sampai kepada konsep seperti itu. Pemikiran layaknya parasut, ia akan berfungsi ketika terbuka dan kehidupan seorang Cingah sangat patut dicontoh karena penempatan akal yang proporsional dalam dirinya sangat tampak sehingga tidak semua orang dapat menalar sebagian besar pemikiran Cingah yang dituangkan dalam syair-syairnya.<br />
Tetap dalam kesendirian dan keheningan, gitar tua tidak lagi dipetik, kopi sudah hampir habis dan rokok sudah tidak menunjukkan jejak kepergiannya. Cingah duduk termenung dan tersenyum menghadap alam. Angin yang bertiup dan kemudian mengajak pasir terbang bersamanya. Debu pinggiran yang mengotori bebatuan Asparaka mulai ikut bertebaran sehingga mengenai kaki dan lutut Cingah. Tatapan Cingah saat ini kearah debu yang terus berderak menggerayangi tubuhnya, dengan kelelahan dan kesyahduan Cingah berbicara kepada sang debu.<br />
“Gemuruh hati terasa singkat melihat tingkah berani kalian yang tak berakal, kalian tak kenal aku dan aku pun tak kenal kalian. Makhluk kecil yang sombong!”, lalu Cingah menundukkan kepala yang melambangkan penyesalan dan ia bangkit kembali dan menatap gemuruh debu tadi sembari mengulurkan tangannya kearah mereka dan menyeka debu yang ada di bebatuan asparaka dan bekas yang masih tersisa ditangannya ditatap dengan penuh khidmat dan ia berlantun pelan “Terkadang kubertingkah berani layakmu, beranimu hanya untukku dan mereka, dan beraniku untuk Tuhanmu dan Tuhan mereka. Wahai debu! Kau sahabatku”.<br />
Suasana berkabung gelap, langit telah legam karena malam telah menduduki kaki langit. Ombak tetap beraksi dengan lazimnya, pasir-pasir pantai telah menyadarkan Cingah bahwa ia telah berani dalam kadar yang tak pantas. Salam sejahtera wahai pasir-pasir pantai, salam sejahtera wahai ombak-ombak Tuhan, salam sejahtera wahai bebatuan pantai, merekalah bagian dari alam yang hadirkan bermacam kesejukan dan kenyamanan. Cingah duduk dipelataran Asparaka, dari kejauhan ia menatap kearah laut, ia membisu, berfikir, merenungi apa yang sebenarnya terjadi dalam alam ini?.<br />
Ia tak pernah meminta untuk diletakkan dibumi Tuhan ini, tapi apakah ini adalah masalah yang harus dipecahkan?, atau hanya lelucon yang tiada arti?. Tapi sepertinya tidak mungkin. Alam yang tercipta dengan keindahan pasti memiliki pencipta yang dikenal dengan Tuhan. Dan pengertian tentang hal ini juga tidak membuat Cingah berhenti sampai disini. Akal adalah anugrah besar yang diberikan Tuhan kepada setiap manusia, dan sebaik-baiknya manusia adalah yang mempotensikan kadar akalnya semaksimal mungkin sampai kepada suatu titik yang dimana akal sudah tidak memiliki peranan didalamnya. Begitulah Cingah, ia meyakini bahwa akal adalah suatu yang istimewa dan ia juga meyakini bahwa akal bukanlah segalanya.<br />
Penjaring malam telah lenyap, singgahnya malam dan habis rembulan, perisai akal telah ditancapkan kebadan samudra dan akan menjadi saksi dari awal perjalanan hidup sang dia. Apalah arti sebuah kehidupan jika tanpa halangan?, dan apakah pantas menjadi seorang yang besar jika tidak pernah menghadapi ujian yang besar?. Sungguh ini adalah perkara, kehidupan tidak sampai disini, tidak sampai pada akal, ada suatu yang lain, dan itu adalah Tuhan.<br />
Cingah bangun dari duduknya dan memperhatikan keadaan sekeliling Asparaka demi memastikan apakah Asparaka dalam keadaan aman atau tidak. Ia melangkah kedalam wadah sederhana yang bersih itu dengan kehati-hatian, ia meyakini bahwa Tuhan memantau gerak-geriknya, walaupun terkadang keyakinan itu pergi dibawa oleh naga ompong yang tak bertanggung jawab, tapi ia menyesali perbuatannya. Asparaka bercahayakan obor tua yang ia rakit sendiri, dengan paparan rotan dan sebagiannya anyaman bambu tua sebagai alasnya, dinding yang berbahankan batu bata yang dikukuhkan dengan semen yang telah keropos, didinding terpampang beberapa foto tokoh besar seperti Bung Karno, Tan malaka dan disisi lainnya terpampang foto pemimpin besar revolusi Islam Iran yaitu Khomeini dan disebelahnya ada gambar karton besar yang berilustrasikan lima lingkaran cahaya dengan satu cahaya besar yang berada ditengah empat cahaya lainnya. Gambar yang terpampang didinding dalam Asparaka adalah Tokoh-tokoh besar bagi Cingah yang merupakan suatu harapan tinggi berdedikasi khusus untuk menjadi seperti mereka dan gambar lima cahaya itu telah ada dari sebelum gambar tokoh-tokoh itu dan Cingah sendiri tidak memahami apa maksud dari kelima Cahaya tersebut tapi entah kenapa Cingah acapkali tersenyum jika pandangannya menuju kearah lima cahaya itu.<br />
Kemudian ia merapikan beberapa buku-buku yang berserakan di tempat yang semestinya dijadikan sebagai tempatnya terbaring untuk terlelap dalam tidurnya, gitarnyapun disandarkan didinding dan ia pun berbaring dengan bantal kecil sebagai pelapis pelindung untuk mengganjal kepalanya dan berselimut dengan kain tipis berbayang dan sepertinya menjanjikan kehangatan bagi sang Penyair Jalanan.<br />
Pemuda antah berantah telah terbaring sadar ditempat bersemayamannya, pandangan masi tetap berkeliling kepada seluruh lapisan Asparaka, perhatiannya yang tajam adalah awal dari prosesnya menuju esok, mengharap fajar datang tuk kembali jalankan kehidupan mewah dihari esok. Pelipur jiwa lara sepanjang singkatnya malam Cingah dengan diiringi lagu sang Ebiet G ade yang berjudul “Titip Rindu Buat Ayah” menambah syahdunya malam Cingah di Asparaka, radio kecil yang umurnya lebih tua dari pemiliknya telah menjadi sahabat bagi Cingah, dan sayangnya radio kecil itu hanya bersikan satu kaset tua yang hanya bisa memutarkan satu lagu yang telah hadirkan sejuta harapan dan angan-angan indah bagi Cingah dan radio kecil itu tetap rela menemani Cingah dalam kesederhanaan hidupnya.<br />
Radio kecil yang berada tepat disebelah kaki kanan Cingah diraihnya dan hanya ada satu tombol dibadan radio itu, dan lagu itupun mati setelah cingah menekan tombol itu dan akan hidup kembali jika tombol itu ditekan untuk yang kemudian. Asparaka telah hening layaknya pesisir pantai setelah gitar Cingah tak lagi dipetik, Cingah terbaring tenang dengan diselimuti kain tipis berbayang yang sepertinya sangat membuat nyaman tidurnya, mata belum terpejam, akal masih beroperasi, hadir untuk menghakimi setiap kejanggalan, tatapan liar mulai hadir kembali dan memantau segala aspek Asparaka yang terhiaskan kesederhanaan.<br />
Dan kemudian Cingah sontak bangun dari baringnya, ia terduduk dengan kaki lurus tertutup kain tipis berbayang. Ia menatap dinding Asparaka dengan pandangan yang sangat tajam dan ia pun bangun dan mengetuk dinding itu, ia mendengar bunyi dari ketukan tangannya, kemudian ia mengambil sendok besi yang bersandar disudut Asparaka dan mengetuk dinding itu dengan sendok kecil itu dan terdengar kembali suara ketukan dengan konotasi nada yang lebih keras. Dan kemudian Cingah tersimpuh dihadapan dinding itu dengan tangan kanan terbuka yang menempel dinding, dan berkata dalam hati.<br />
“Sungguh ini Tuhan. Aku tahu bahwa dinding Asparaka telah berdiri sejak lama, aku hanyalah pemuda yang hadir untuk memperbaharui Asparaka dengan kesederhanaan. Dimana orang yang membangun tempat kecil ini?. Aku yakin mereka telah lama pergi menyongsong akhir. Tapi mereka bukan sebab akan berdirinya dinding Asparaka. Mereka telah pergi! Ya! Mereka telah pergi, tapi mengapa dinding ini tetap kokoh?. Mereka bukanlah sebab berdirinya dinding Asparaka!”.<br />
Cingah tetap terpaku dalam diam dan rasa bingung. Mulai kembali berfikir akan kasih Tuhan yang meletakkan kekuatan disetiap partikel kehidupan. Sungguh ini adalah perkara penting yang terlupakan. Ia pun kembali pada posisinya yang terbaring dengan berselimutkan kain tipis itu dan mulai memejamkan mata demi hadirkan suasana berkabung fajar esok dan bahagia.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=148&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/10/26/asparaka-dan-menjelang-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Etika Ber”Tuhan” dalam Islam</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/07/18/etika-ber%e2%80%9dtuhan%e2%80%9d-dalam-islam/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/07/18/etika-ber%e2%80%9dtuhan%e2%80%9d-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 11:01:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Kekeliruan, kerancuan, egoisme dalam berfikir, pemaksaan terhadap kekuatan Logika yang pada dasarnya bukan segala-galanya sepertinya telah menjadi penyakit umat islam saat ini. Kalau dahulu seorang teolog Iran yang bernama Murtadha Muthahari pernah mengatakan bahwa seseorang yang hanya mengandalkan logika dengan mengesampingkan nilai spritual maka dia bukanlah manusia seutuhnya, melainkan hanya seorang filosof kering yang celaka. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=145&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kekeliruan, kerancuan, egoisme dalam berfikir, pemaksaan terhadap kekuatan Logika yang pada dasarnya bukan segala-galanya sepertinya telah menjadi penyakit umat islam saat ini. Kalau dahulu seorang teolog Iran yang bernama Murtadha Muthahari pernah mengatakan bahwa seseorang yang hanya mengandalkan logika dengan mengesampingkan nilai spritual maka dia bukanlah manusia seutuhnya, melainkan hanya seorang filosof kering yang celaka. Dan saat ini keyakinan saya mulai menuju kearah pernyataan Murtadha Muthahari. Banyak terjadi kesalah pahaman, kerancuan, kekeliruan dalam berfikir dan pengambilan langkah yang didasari oleh pemujaan terhadap logika. Pada dasarnya Tuhan menciptakan akal sebagai alat untuk berlogika, dan telah ditetapkan juga suatu hukum bahwa akal dan logika bukanlah segala-galanya, dalam arti, bahwa ada masa ketika akal harus tidak di gunakan lagi, hendaknya untuk beranjak kenilai lain yang lebih tinggi dari akal dan logika. <span id="more-145"></span></p>
<p>Mungkin sebelumnya, saya harus memberikan semacam analogi bahwa ada peran akal atau logika, dan ada masa ketika akal tidak dapat difungsikan lagi. Sebelumnya saya akan mengupas sampai dimana peran akal dalam menuntun manusia untuk mencapai kesempurnaannya.<br />
Peran akal :<br />
1.    Menyadarkan akan adanya Tuhan. Manusia terlahir didunia diberikan berbagai fasilitas yang luar biasa yang berfungsi untuk membantu kenyamanan dalam menghadapi kehidupan didunia ini. Mulai mengerti akan panasnya api, dinginnya Es, basahnya air, sakitnya pukulan dalam konsep fisik, dan sakitnya cacian dalam konsep hati. Bisa dipastikan pengerahuan-pengetahuan semacam itu adalah hasil dari eksistensi akal dalam diri manusia. Apakah cukup sampai disitu?. Tentu tidak, akal yang mempunyai kapasitas yang dahsyat menuntut setiap manusia untuk berlogika, bahwa segala keberadaan yang ada di alam ini tidak mungkin ada tanpa adanya seorang pencipta. Pengertiann akan keberadaan Tuhan tanpa teori yang jelas, sudah bisa diraih hanya dengan akal dan logika, tanpa harus seseorang menganut suatu agama. Jadi, peran logika yang pertama adalah menyadarkan manusia bahwa ada Tuhan yang menciptakan alam ini dengan segenap keindahannya.</p>
<p>2.    Memberikan pemahaman terhadap konsep Tuhan . Setelah keyakinan akan keberadaan Tuhan telah tertanam dihati seseorang. Maka manusia yang menjunjung tinggi dan menghargai konsep akal dan logikanya, ia tidak akan berhenti sampai disini. Dimana Tuhan?, bagaimana Tuhan?, bersama siapa Tuhan?, untuk apa Tuhan mencipta?, atas dasar apa Tuhan mencipta?, apa ada suatu hal yang penting dibalik penciptaan Tuhan?. Pertanyaan mendasar seperti ini pasti akan terlintas dibenak manusia-manusia yang menjunjung logikanya, dan dalam bukunya yang berjudul “Dunia Sophie” Jastein garder menyebut bahwa pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini dinamakan “Pertanyaan Filosofis” dan pertanyaan seperti ini akan terlontar ketika manusia telah mencapai keadaan tenang dan tidak dalam masalah-masalah yang rumit seperti kelaparan, terlilit hutang, atau permasalahan hidup lainnya. Tapi akal juga mengatakan bahwa Tuhan pasti indah dan yang terindah diantara yang ada dalam pandangan mata, lebih merdu dari suara yang ditangkap oleh telinga, dan tentunya indera kita tak akan bisa menangkap keutuhan wujud Tuhan secara eksistensial. Segala yang ada tidak mungkin keluar dari pantauanNya, akal mengatakan bahwa Tuhan itu sempurna, Tuhan itu adil, Tuhan tidak mungkin salah, Tuhan itu bijak, dan segala tindak tanduk perilaku Tuhan, pasti ada tujuan dan harapan bagi penciptaannya, yaitu penyamarataan tujuan untuk mencapai kesempurnaan. Ketika Tuhan adalah simbol kesempurnaan, maka otomatis Tuhan juga menuntut seluruh ciptaannya untuk menuju titik kesempurnaan. Akan tetapi keadilan Tuhan tidak memaksakan ciptaannya untuk bersikap dengan keinginan Tuhan, jadi bisa dibilang dengan logika yang paling sederhana adalah “Tuhan memberikan batasan tanpa membatasi”. Kesimpulan kedua dalam peran akal yaitu, akal dapat mengantarkan kita akan kesempurnaan Tuhan dan Tuhan tidak mungkin membiarkan makhluknya hidup tanpa adanya petunjuk, sedangkan pemahaman logika akan kebijakan Tuhan mengatakan bahwa semua tindak tanduk Tuhan mengarah kepada tujuan penciptaan, dan akal manusia dengan kekuatan logikanya juga mengatakan bahwa manusia tidak akan bisa mencapai titik kesempurnaan tanpa adanya petunjuk yang kekal dan abadi.</p>
<p>3.    Pengenalan kepada kitab suci. Pengetahuan tentang Tuhan telah menyadarkan bahwa Tuhan harus meletakkan sebuah pamungkasnya dimuka bumi sebagai petunjuk bagi manusia yang berakal. Bagaimana menentukan syarat keefektifan suatu pedoman bagi manusia dimuka bumi.<br />
Syarat-syarat kitab suci:<br />
•    Harus diyakini bahwa kitab suci ini dari Tuhan.<br />
•    Harus sesuai dengan zaman dan ada disetiap zaman.<br />
•    Tidak boleh bertentangan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain.<br />
•    Tidak boleh ada kerancuan pemahaman didalamnya.<br />
•    Harus berisikan kelengkapan materi dakwah atau pesan Tuhan yang mudah diterima oleh manusia .<br />
•    Harus disertai oleh pengembannya sebagai seseorang pilihan Tuhan dan harus terhindar dari kesalahan.</p>
<p>(NB)&#8230; Segala syarat yang telah tertera diatas adalah suatu ketentuan kriteria kitab suci yang telah disepakati oleh logika.</p>
<p>Dengan keterbukaan pemikiran tanpa dilandasi oleh suatu faham fanatisme atau sikap keras kepala yang tidak dilandasi oleh peran akal, dihadapan kita telah tersajikan beberapa kitab suci dan akal harus memilih mana yang terbaik diantara beberapa kitab suci yang ada. Dan sesuai karakter akal bahwa akal telah menyadari akan kesempurnaan Tuhan dan kebijakan Tuhan. Dan Tuhan menuntut setiap makhluk untuk mencapai titik kesempurnaan. Walaupun kita menyadari bahwa akal bukanlah segalanya atau suatu neraca kesempurnaan tapi kita menyadari bahwa akal dapat memilih yang terbaik diantara yang baik.</p>
<p>Fakta yang tampak dizaman sekarang adalah, dengan kekuatan berlogika yang dimiliki oleh umat islam mereka telah memimilih Islam sebagai agama mereka dan mereka juga telah memilih Al-Qur’an sebagai kitab suci mereka, kitab suci yang paling sempurna dan telah diyakini bahwa didalamnya terdapat titah Tuhan, ajaran, sejarah, syari’at dan apapun yang menjadi pengantar manusia untuk menuju Tuhannya. Dan didalam Al’Qur’an juga Tuhan menantang para musuh-musuh Tuhan untuk menciptakan karya tulis yang bisa menyamai kedudukan kitab suci ini, dan sampai saat ini belum ada siapapun yang bisa menyamai kedudukan, kemuliaan Al-Qur’an, dari segi sastra bahasanya, pesan-pesan mendalam yang tertera didalamnya, sejarah yang mengandung hikmah dan terbukti kebenarannya dari waktu ke waktu. Dan Logikalah yang mengantarkan manusia kepada keyakinan seperti ini.</p>
<p>*Kesimpulan dan Penutup</p>
<p>Akhirnya sampai juga kita pada akhir pembahasan. Dan telah disepakati sebelumnya bahwa semua yang telah dipaparkan diatas adalah hasil dari peran akal dengan perhitungan logika. Setelah logika telah mengantarkan kita pada kesimpulan akan keberadaan Tuhan, dan juga telah mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa Tuhan adalah simbol kesempurnaan yang hakiky, pemilik keadilan yang mutlak dan dzat maha dahsyat yang terhindar dari segala bentuk keburukan, kecacatan, kesalahan, kekeliruan dan hal-hal negative lainnya. Dan dengan logika pula telah mengantarkan kita pada pemahaman bahwa diperlukan suatu pedoman abadi yang datangnya dari Tuhan sebagai petunjuk hidup yang tidak boleh untuk ditinggalkan dan logika mengatakan, bahwa pedoman ini datang untuk para mereka-mereka yang berfikir dan konsekuen terhadap pengertian logika mereka yang awal tentang kepercayaan kepada Tuhan, kesempurnaan Tuhan dan lain-lain. Dan yang terakhir adalah. Akal dengan kekuatan logika telah mengantarkan para umat islam dalam keyakinan bahwa “AL-QUR’AN” adalah kitab suci yang paling sempurna dan datang sebagai penerang jalan orang-orang mukmin. Dan setelah pemahaman ini terbentuk sebagai landasan pemikiran manusia-manusia beriman, apakah pantas kita masih mengutamakan logika kita atas kitab suci tersebut?.</p>
<p>Dan dihadapan orang-orang beriman telah tersajikan Kitab suci pemberian Tuhan sebagai petunjuk jalan bagi mereka dan kesadaran akan itu adalah hasil dari kerja keras akal dengan perhitungan logikanya. Peran akal dan perhitungan logika telah rampung, manusia-manusia sahabat Tuhan telah bahagia atas ketentuan Tuhannya. Mereka telah menempatkan akal dan logika pada posisinya, tidak memaksakan kehendak atas akalnya karena mereka memahami bahwa peran logika hanya sampai disini. Dan yang harus dilakukan pada saat seperti ini adalah pasrah terhadap ketentuan Tuhan yang dipaparkan dalam kitab suci tersebut tanpa berlogika atasnya, mengkaji lebih dalam dan temukan rahasia-rahasia Tuhan didalamnya, maka kebenaran satu per satu akan terungkap dan keesaan Tuhan akan semakin jelas untuk dirasakan. Pengkajian atas kitab suci ini diperlukan konsentrasi mendalam agar pemahaman bisa diterima oleh pengkajinya. Akan tetapi, apabila ditemukan suatu kerancuan atau kesalahpahaman atas pesan-pesan atau pernyataan yang terdapat didalamnya, maka manusia yang berlogika akan senantiasa untuk memaslahatkan antara logikanya dengan ayat yang terkandung didalam kitab suci tersebut, bukan malah memaksakan ayat untuk menyesuaikannya terhadap logikanya, dan jika timbul kecurigaan yang datangnya dari hasil pengolahan akal atas ayat-ayat kitab suci ini, maka sebaik-baiknya logika adalah mencurigai logika tersebut.</p>
<p>Acinmuhdor&#8230;<br />
Jakarta. 18, Juli, 2010.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/145/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=145&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/07/18/etika-ber%e2%80%9dtuhan%e2%80%9d-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Ini Akal</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/07/18/apa-ini-akal/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/07/18/apa-ini-akal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 10:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Gejolak perubahaan zaman menyebabkan banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada kalangan umat beragama, yang terpenting adalah dalam masalah pemikiran. Para pemikir barat yang menguasai medan kajian senantiasa melakukan berbagai macam propaganda dalam mengeksploitasi sistem pemikiran yang sewajarnya. Dalam keadaan apapun yang terjadi, ajaran Tuhan yang sebenarnya selalu mengandalkan prespektif akal sebagai alat tolok ukur untuk mencapai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=142&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gejolak perubahaan zaman menyebabkan banyak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada kalangan umat beragama, yang terpenting adalah dalam masalah pemikiran. Para pemikir barat yang menguasai medan kajian senantiasa melakukan berbagai macam propaganda dalam mengeksploitasi sistem pemikiran yang sewajarnya. Dalam keadaan apapun yang terjadi, ajaran Tuhan yang sebenarnya selalu mengandalkan prespektif akal sebagai alat tolok ukur untuk mencapai suatu hakikat, yang tentunya dibantu oleh organ atau indra lainnya yang berjasa dalam eksistensi epistimologi. <span id="more-142"></span></p>
<p>Akal juga berperan sebagai penentu khusus yang membedakan antara manusia dengan binatang. Yang memberikan kemampuan khusus kepada manusia, tentunya dalam menghadapi hal-hal tertentu, seperti halnya melakukan klarifikasi, penolakan, dan menyeleksi. Tak pelak lagi, tidak mungkin bagi kita untuk membicarakan ihwal akal dengan melupakan eksistensi ruh, yang keduaya sangat berkaitan. Tentunya peran keduanya dalam kehidupan. Akal adalah bagian dari ruh, bagian disini layaknya terang pada lampu, yang satu sama lainnya tidak bisa dipisahkan .</p>
<p>Pengetahuan bisa diraih tanpa menggunakan akal, akan tetapi hal-hal seperti ini tidak memiliki pengaruh apapun pada perkembangan ruh, karena segala sesuatu yang tidak dipikirkan atau direnungkan walaupun sebanyak apapun pengetahuan yang telah di raih, tidak akan dapat memberikan suatu kekuatan khusus demi meningkatkan kualitas diri. Dengan ini, fungsi akal sangat signifikan dan badihi, karena tidak akan dapat mengambil peajaran kecuali orang-orang yang berfikir. Dalam artian yang mengolah sejumlah data yang telah diterima dan memberikan tanggapan positif yang nantinya akan mempengaruhi kualitas ruh adalah fungsi akal.</p>
<p>Karena ruh yang berkualitas ditentukan oleh akal yang berkualitas pula. Dengan pembahasan seperti ini, semoga penghargaan manusia dalam penggunaan akal dapat lebih meningkat tanpa memandang rendah ibadah, karena tidak akan bernilai suatu ibadah yang tidak didukung oleh pengetahuan akan makna ibadah tersebut.</p>
<p>Acinmuhdor</p>
<p>Jakarta, 12 Juli, 2008</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=142&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/07/18/apa-ini-akal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mungkin ini Cinta</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/07/14/mungkin-ini-cinta/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/07/14/mungkin-ini-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Jul 2010 12:12:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Telah menjadi satu landasan pemikiran, atau bisa dibilang suatu ideologi sederhana, bahwa cinta adalah satu konteks eksistensi yang dapat membahagiakan dan kemudia menyengsarakan setiap pelakunya. Pelaku percintaan atau orang yg mecintai akan semata-mata menganggap bahwa cinta adalah suatu hal yang harus dituntut bagi setiap manusia, dan setelah ia merasakan kegagalan atau akhir yang tidak diinginkan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=137&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Telah menjadi satu landasan pemikiran, atau bisa dibilang suatu ideologi sederhana, bahwa cinta adalah satu konteks eksistensi yang dapat membahagiakan dan kemudia menyengsarakan setiap pelakunya. Pelaku percintaan atau orang yg mecintai akan semata-mata menganggap bahwa cinta adalah suatu hal yang harus dituntut bagi setiap manusia, dan setelah ia merasakan kegagalan atau akhir yang tidak diinginkan, maka ia akan menyalahkan cinta dan merasa bahwa cinta adalah keterjerumusan.Pada dasarnya pemikiran semacam itu adalah hasil dari kecerobohan manusia, dan keterbatasan pengetahuan dan keyakinan mendasar akan konsep cinta yang telah dipahaminya.<span id="more-137"></span><br />
Tuhan pemilik cinta dan pemilik segala keberadaan yang ada telah terlebih dahulu menyadarkan seluruh maujud yang ada, bahwa bisa seluruh keberadaan yang ada. Mungkin ini salah satu satu argumen yang bisa dijadikan sebagai dasar pemahaman bahwa cinta adalah suatu kemurnian, kebaikan, kebahagiaan, penghangat setiap keadilan dan tuntutan bagi setiap pemilik hati.</p>
<p>Kesengsaraan yang terjadi dalam kehidupan yang didasari oleh cinta, pada hakikatnya adalah kesalahan pemahaman yang fatal. Pelaku cinta telah terhanyut dalam cinta yang salah, cinta yang tidak mengenal tumpuan yang layak, dan yang paling sering terjadi dalam kehidupan masyarakat adalah penggunaan perasaan yang diawali dengan rasa ingin tahu, pengenalan terhadap objek yang akan dijadikan sebagai tujuan cinta, lalu setelah cinta itu timbul di kedua belah pihak, dihancurkan oleh keinginan lain yang datangnya bukan dari cinta. Rasa ingin memiliki adalah satu hal yang paling berperan penting dalam hancurnya kehidupan manusia yang menjadi satu indikasi yang dipandang wajar bahwa itu adalah kesalahan cinta. Mungkin ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar kita tidak menyesali perbuatan mencintai.</p>
<p>1.Tentukan Objek</p>
<p>Yang terpenting dalam tindakan mencintai adalah menentukan objeknya, karena ini juga yang menjadi salah satu faktor bahwa cinta adalah sumber keterpurukan. Yang dicintai dengan segenap raga dan jiwa tidak dapat memberikan kontribusi khusus yang diharapkan yang akhirnya hanya membuahkan penyesalan dan cinta dijadikan sebagai kambing hitam dalam seluruh aspek perasaan yang telah dikorbankan. Hal ini juga menjadi tameng terhadap rasa kecewa, karena target yang akan dicintai telah memenuhi syarat dan telah melampaui batas normal dalam pandangan pecintanya. Target dikehendaki seistimewa mungkin, agar ketika terjadi ketertutupan jalan menuju target, sang pelaku akan senantiasa menganggap dirinya tidak layak untuk mendapatkannya, dan akan senantiasa mengeluarkan segenap potensi dirinya, dan menjadikan dirinya lebih baik dari sebelumnya.</p>
<p>2. Tanpa Pamrih</p>
<p>Pengorbanan yang diatas namakan oleh cinta setidaknya dapat memberikan kepuasan tersendiri terhadap si pengorban tersebut, akan tetapi tidak jarang pula yang meyalahkan cinta karena pengorbanannya tidak terbalaskan dengan apa yang diharapkan. Ketulusan adalah salah satu solusi yang paling efektif untuk mencegah kekecewaan itu. Maka dari itu setiap pelaku harus terlebih dahulu menentukan objek seperti yang telah di paparkan sedikit dibagian sebelumnya. Setidaknya tidak akan ada penyesalan karena si pelaku telah terlebih dahulu meyakini bahwa mencintai adalah kebutuhan dan akan menjadi satu beban tersendiri ketika cintanya tidak tercurahkan kepada kekasihnya.</p>
<p>3. Berfikir positif</p>
<p>Kebanyakan manusia, tidak menjunjung tinggi nilai relevansi. Formalitas dijadikan segalanya. Hal inilah yang menjadikan cinta dipandang sebagai sumber dari kesengsaraan. Mencintai adalah kebutuhan mutlak setiap insan yang berakal dan memiliki hati. Cinta dengan segenap kemurnian dan esensi yang melekat dengan Tuhan, akan mewarnai seluruh ranah permasalahan yang terjadi di muka bumi ini. Ketika sang pelaku cinta mulai mengasihi kekasihnya dengan rasa cinta yang dikemas dengan perhatian, kasih sayang, ucapan-ucapan lembut yang keluar dari bibirnya. Secara tak sadar, ia telah menghibur dirinya dengan itu. Tidak hanya sampai disini, yang terjadi pada kebanyakan pelaku jatuh cinta, menempatkan perasaan-perasaan lain dalam hatinya yang ditujukan terhadap kekasihnya. Sampai disini harus lebih ditegaskan, bahwa ada perasaan-perasaan lain yang datangnya bukan dari cinta melainkan dari hawa nafsu yang menjelma dalam perasaan yang memberitahukan pada akal bahwa ini adalah cinta. Hal-hal semacam itu mengemas dirinya dengan keindahan, mewarnai perasaan dengan harapan-harapan lain, yang nantinya akan menimbulkan rasa ingin memiliki. Sudah semakin jelas, ketika rasa ingin memiliki itu hadir, kemurnian cinta akan hilang dan terkontaminasi. Manisnya perjuangan, kasih sayang, perhatian, dan ucapan-ucapan lembut yang pertama hadirpun akan memudar, karena semuanya tidak didasari oleh cinta. Dan mulailah berfikir positif menghargai cinta sebagai kemurnian mutlak suatu kebahagiaan, dan siap mengatakan bahwa kesengsaraan-kesengsaraan semacam itu datangnya bukan dari cinta, melainkan perasaan-perasaan lain yang menjelma dengan keindahan dan membuat akal tak mampu lagi berfikir dan menumpahkan semua kesalahan ini terhadap cinta.</p>
<p>Ketika diibaratkan, burung yang ada didalam sangkar yang pintu sangkarnya dalam keadaan terbuka karena sang pemilik lupa menutup pintunya, maka kemungkinan buruk yang akan terjadi adalah burung itu akan keluar dan terbang tak tentu arah mengikuti kehendak hati dan hinggap dimanapun tempat yang ia kehendaki tanpa memperhatikan keamanan atau perihal lain yang meliputi tempat hinggapnya si burung tadi. Cinta bukan seperti burung yang sangkarnya lupa ditutup oleh pemilik sangkar.<br />
Cinta adalah aktual, ada, hadir, independen terhadap apapun. Cinta dimiliki oleh setiap pemilik hati, cinta akan hadir jika diminta dan akan hilang ketika yang dicinta sudah tidak layak lagi, dan akan pindah kepada kekasih baru yang layak untuk dicinta. Cinta bukan kepemilikan, melainkan pengorbanan, bukan juga harapan melainkan kesantunan, bukan kesengsaraan melainkan kebutuhan. Curahkan cinta yang ada terhadap yang layak, karena cinta adalah milik kita, bukan milik yang dicinta. Yang kita kasihi hanya merupakan wadah kosong yang indah, lembab dan membutuhkan cinta kita untuk menghiasi wadah tersebut dan ketika suatu waktu wadah tersebut tidak layak lagi untuk dihiasi dengan rasa cinta, kasih sayang, pengorbanan dan hal-hal indah lainnya, maka dengan segenap independensi yang telah Tuhan berikan pada diri kita, kita mampu untuk menarik cinta kita kembali dan memindahkannya sesuai dengan yang kita inginkan dan layak sebagai persinggahan kasih sayang. Semua itu harus didasari oleh pemahaman bahwa cinta yang kita miliki adalah suatu hal yang berharga dan sangat istimewa, dan tentunya kita tidak akan meletakkan cinta ini disembarang tempat, yang nantinya hanya akan merendahkan eksistensi cinta tersebut.</p>
<p>Acinmuhdor<br />
Jakarta. 21 Juni, 2010&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=137&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/07/14/mungkin-ini-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tenggelam Bersama Rembulan</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/01/29/130/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/01/29/130/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 02:52:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Category:    Books Genre:     Religion &#38; Spirituality Author:    Tere Liye nah,ini dia resensi (sekalian numpuk tugas) yang pernah saya janjikan : Buku karangan Tere Liye ini adalah novel fiksi bertema religi. Dengan cover berwarna hitam dan gambar bulan yang tenggelam di lautan serta gambar dua mata yang menggambarkan sebagian wajah bisa mewakili judul secara sederhana. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=130&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://" target="_self"><img src="http://www.bukukita.com/babacms/displaybuku/19493_f.jpg" border="0" alt="" width="124" height="174" /></a></p>
<blockquote><p>Cate<img title="Sunting Gambar" src="../wp-includes/js/tinymce/plugins/wpeditimage/img/image.png" alt="" width="24" height="24" />gory:    Books</p></blockquote>
<p>Genre:     Religion &amp; Spirituality</p>
<p>Author:    Tere Liye<br />
nah,ini dia resensi (sekalian numpuk tugas) yang pernah saya janjikan :<span id="more-130"></span></p>
<p>Buku karangan Tere Liye ini adalah novel fiksi bertema religi. Dengan cover berwarna hitam dan gambar bulan yang tenggelam di lautan serta gambar dua mata yang menggambarkan sebagian wajah bisa mewakili judul secara sederhana. Tata letak gambar-gambar tersebut sudah tepat. Tulisan judul yang berwarna putih terlihat kontras dengan latar belakang yang berwarna hitam. Di dalam novel ini terdapat beberapa salah cetak berupa halaman yang tercetak dua kali.</p>
<p>Novel ini berkisah tentang kehidupan Ray-begitu ia senang dipanggil. Dimulai dari masa kecilnya selama enam belas tahun yang ia habiskan di panti asuhan. Di panti asuhan ini ia mengalami masa kecil yang kurang mengenakkan. Penjaga panti menyuruh anak-anak panti menghabiskan waktu untuk bekerja. Berbeda dengan anak-anak panti lainnya yang tumbuh tertekan, Ray yang pada dasarnya cerdas justru tumbuh melawan. Semakin lama, pecutan rotan yang tidak menjawab kekritisannnya tentang banyak hal menambah buruk bentuk perlawanan yang ia lakukan. Mulai dari mencuri, menjual paket yang datang ke pantinya, hingga berjudi.<br />
Hingga suatu hari, Ray memutuskan untuk kabur dari panti asuhan, dengan sebelumnya diiringi bentuk pemberontakan puncaknya kepada penjaga panti. Ia memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan berjudi dan tinggal di terminal. Sebuah kecelakaan yang cukup tragis membuatnya terdampar di ibukota.</p>
<p>Kehidupan Ray kemudian berlanjut di sebuah rumah singgah di ibukota. Di rumah singgah ini Ray mulai merasakan bahagianya kebersamaan dan persaudaraan. Ray mulai mengenal optimisme hidup lewat motivasi-motivasi yang diberikan oleh kakak-kakak pengasuh rumah singgah tersebut.</p>
<p>Di bagian ini, pembaca akan menemukan kalimat-kalimat motivasi seperti, ”Kalian mungkin memiliki masa lalu yang buruk, tapi kalian memiliki kepal tangan untuk mengubahnya&#8230;Kepal tangan yang akan menentukan sendiri nasib kalian hari ini, kepal tangan yang akan melukis sendiri masa depan kalian” atau kalimat ikrar persaudaraan seperti, ”Kalian akan tetap menjadi saudara di mana pun kalian berada, kalian sungguh akan tetap menjadi saudara&#8230;Tidak ada yang pergi dari hati&#8230;Tidak ada yang hilang dari sebuah kenangan&#8230;Kalian sungguh akan tetap menjadi saudara” serta satu kalimat bijak, ”Rasa sakit yang timbul karena perbuatan aniaya dan menyakitkan dari orang lain itu sementara&#8230;Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi”.</p>
<p>Selain itu, di rumah singgah ini, Ray tumbuh dengan rasa solidaritas yang tinggi. Hal ini pulalah yang menyebabkan Ray kembali terjerumus dalam naluri lamanya, terjebak dalam pemikiran sempit anak seusianya. Bermula dari rasa tidak terima Ray terhadap perilaku preman jalanan yang memukuli ’saudaranya’ di rumah singgah, Ray mencoba membalas dan ternyata ia berhasil mengerutkan preman-preman tersebut. Namun, masalah ini rupanya diikuti dengan masalah-masalah serupa&#8211;balas dendam komplotan preman yang terjadi beruntun, dan akhirnya menjadikan satu lagi saudaranya sebagai korban.</p>
<p>Tidak tahan dengan kenyataan yang ada, di samping bosan dengan nasihat-nasihat yang diberikan, Ray memutuskan untuk pergi dari rumah singgah, kabur. Ia kemudian menyewa sepetak kamar dan memilih menjadi pengamen, yang sebelumnya rutin ia lakoni selama tidak ada jadwal sekolah informalnya ketika masih di rumah singgah.</p>
<p>Kehidupan Ray terus berlanjut. Ia bertemu dengan Plee. Bersama Plee sebagai otaknya, Ray turut berperan dalam penculikan berlian seribu karat. Saat itu yang ada dalam pikiran Ray hanya satu, ”apa salahnya menjadi orang jahat”. Rencana yang telah disusun sedemikian matang ternyata masih ada sedikit celah untuk gagal. Ray tertangkap mata salah seorang petugas. Beruntung mereka berdua masih bisa kabur dari tempat eksekusi berlian tersebut, dengan sepotong peluru di paha Ray.</p>
<p>Pembaca akan diajak serta untuk merasakan tegangnya pelaksanaan eksekusi rencana mereka. Penceritaan secara narasi dengan deskripsi yang mendetail meski sedikit dibubuhkan gaya hiperbola dalam satu dua kalimatnya seperti, ”Mengaum di tengah deru bulir hujan membuncah kota,” membuat pembaca paling tidak mampu membayangkan peristiwa menegangkan tersebut.<br />
Berbagai alasan yang turut melibatkan masa lalu cukup kompleks membuat Plee akhirnya menyerahkan diri pada polisi yang akhirnya mengepung persembunyian mereka. Beberapa tahun kemudian Plee dihukum mati. Ray lagi-lagi tidak tahan melihat kenyataan pahit dalam kehidupannya ini memutuskan menjauh dan kembali ke kota di mana Ray kecil dulu dibesarkan, kota di mana panti asuhan itu berada.</p>
<p>Ray mencoba melupakan kenangan masa lalunya. Ia mencoba menata kembali kehidupannya. Ia mulai dari menjadi pekerja bangunan yang tidak membutuhkan syarat keahlian maupun ijazah. Ray yang merupakan seorang pembelajar cepat didukung dengan rajinnya ia bekerja, segera mendapatkan promosi menjadi mandor. Tak lama kemudian ia ’naik pangkat’ lagi menjadi wakil kepala mandor.</p>
<p>Tips-tips menjadi pemimpin yang baik sedikit demi sedikit dimasukkan Tere Liye mulai bagian ini. Pengaplikasiannya secara nyata digambarkan Tere Liye dalam aktivitas Ray. Ide Ray mengenai kompetisi sepak bola antar pekerja kontruksi bangunan yang ia katakan dalam evaluasi bersama pemilik gedung, ”Membiarkan pekerja bersenang-senang secara proporsional membuat semangat kerja mereka membaik! Tidak ada yang bisa mengalahkan produktivitas pekerja yang semangat kerjanya tinggi,” bisa menjadi salah satu contohnya.</p>
<p>Di samping itu, Ray diceritakan mendapatkan cinta pertamanya yang kemudian menjadi istrinya. Perjalanan Ray menjadi mandor diiringi dengan perjalanan mendapatkan cintanya pula. Ray mulai membangun keluarganya ketika karirnya mulai menanjak. Kehidupan Ray dan keluarganya pun membaik, meski sempat tersandung dengan keguguran kandungan pertama istrinya. Setelah itu, semua berjalan normal hingga di kehamilan kedua istrinya, lagi-lagi diakhiri dengan keguguran. Namun, yang membedakan adalah, tak lama sesudah proses operasi istri Ray ikut pergi&#8211;meninggal.</p>
<p>Di akhir hidupnya, istri Ray menangis, bertanya tersengal kepada Ray, “Apakah kau ridha kepadaku?” Ray yang bingung sepat membuat istrinya menunggu. Akhirnya, istri Ray pergi diantar oleh anggukan Ray. Di sini pembaca disuguhkan dengan adegan kepergian yang indah. Sampai di bagian ini usai sudah Tere Liye menggambarkan perwujudan sepotong nasihat :Istri yang ketika meninggal dan suaminya ridha padanya, maka pintu-pintu surga dibukakan lebar-lebar baginya.</p>
<p>Ray memutuskan pergi kembali ke ibukota setelah kepergian istrinya. Memulai karir barunya sebagai pemilik imperium bisnis bermodalkan berlian seribu karat yang ternyata dulu sempat disimpankan Plee di suatu tempat. Bisnisnya sukses, dan Ray mulai dikenal sebagai aktor bisnis yang pandai mengendalikan relasi bisnisnya. Jatuh bangun mengelola bisnis serta menjadi korban persaingan tidak sehat dalam bisnis Ray alami.</p>
<p>Akhirnya, satu cita-citanya sejak bekerja di konstruksi bangunan tercapai. Membangun gedung tertinggi, 101 lantai. Tidak puas dengan apa yang sudah ia dapatkan, Ray merambah bisnis-bisnis yang lain. Semakin menanjak hidupnya justru ia semakin merasakan kekosongan dalam hidupnya. Perasaan kecewa terhadap relasi bisnis pada umumnya yang cenderung ‘pasang muka’ membuat Ray yang telah terjebak dalam kehampaan memutuskan untuk mematungkan diri terhadap pekerjaan.</p>
<p>Satu hal yang tidak pernah berubah sejak ia tinggal di panti asuhan, yaitu kebiasaannya memandangi rembulan dan mengagumi ciptaan-Nya yang satu ini. Seburuk apapun Ray mengutuk kehidupannya, ia selalu berterima kasih pada Tuhan setiap kali memandang rembulan. Karena rembulan pula ia yakin bahwa pasti ada sepotong bagian yang menyenangkan, sesuatu yang lebih indah daripada menatap rembulan—meski ia tidak tahu bahwa itulah janji Allah untuk menatap wajah-Nya kelak. Inilah yang membuatnya mendapatkan kesempatan untuk mengenang masa lalunya, dan memdapatkan pemahaman atas kehidupannya.</p>
<p>Cerita ini dikisahkan melalui sudut pandang orang ketiga serba tahu dan dirangkai dengan alur mundur atau flashback. Di prolog cerita, pembaca akan memasuki sebuah kehidupan yang terkesan tidak ada hubungannya dengan cerita selanjutnya. Setelah bab prolog ini, pembaca akan dibawa melesat jauh memasuki petualangan mengenang masa lalu kehidupan Ray. Dalam perjalanan inilah Ray mendapatkan penjelasan atas kehidupannya. Selain itu, sesekali dalam perjalanan ini Ray dibawa melihat peristiwa di balik kehidupannya atau peristiwa orang lain yang berkaitan dengan kehidupannya sendiri. Di akhir cerita-yang termasuk dalam akhir perjalanan mengenang masa lalu Ray, pembaca dibawa kembali melesat ke cerita di prolog novel disertai dengan penjelasan hubungan di antara kedua cerita tersebut.</p>
<p>Gaya Tere Liye yang khas muncul dalam pengisahan di novel ini. Bahasanya sederhana, mengalir sehingga mudah dipahami. Pilihan katanya tepat, sesekali mengandung makna konotasi. Dalam kalimat-kalimatnya sering ditemui majas personifikasi dan hiperbola. Selain itu dapat juga ditemukan majas paradoks seperti pada kalimat : Gadis kecil itu menatap kosong keramaian di hadapannya. Pendeskripsian suasana dan latar ditulis mendetail sehingga pembaca mudah membayangkan setiap adegannya. Contohnya pada paragraf pertama ditulis :<br />
Malam terang. Langit bersih tak tersaput awan. Bintang gemintang tumpah mengukir angkasa, membentuk ribuan formasi menawan tak terlupakan. Angin malam membelai rambut. Lembut. Menyenangkan. Menelisik. Bernyanyi di sela-sela telinga.</p>
<p>Dalam buku ini, Tere Liye berusaha menawarkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam hidup. Di setiap bagian ceritanya selalu disisipi pemahaman mengapa suatu hal terjadi dan mengapa harus terjadi melalui sudut pandang yang berbeda. Tere Liye menawarkan cara menyikapi berbagai macam kegundahan hati atas pertanyaan tentang keadilan hidup, takdir, hubungan sebab-akibat dalam hidup, kehilangan, cobaan dan ujian dalam hidup, sehingga kita bisa menjadi lebih bijaksana.</p>
<p>Tags: wajibbaca, buku bagus<br />
Prev: banyakk<br />
Next: we will not go down</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/130/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/130/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/130/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=130&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/01/29/130/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.bukukita.com/babacms/displaybuku/19493_f.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Benteng kesucian Islam</title>
		<link>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/01/29/127/</link>
		<comments>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/01/29/127/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 02:39:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>4c1n</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://acinmuhdor.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Judul Buku : Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam Penulis : Dr. Mulyadhi Kartanegara Penerbit : Mizan, Bandung Cetakan : Pertama, 2003 Tebal : xxxvi + 188 halaman SEBAGAI kajian filosofis, epistemologi (teori pengetahuan) secara umum belum mencapai tingkat kajian yang memadai di negeri ini. Beberapa buku tentang epistemologi yang ditulis oleh sarjana Indonesia masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=127&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sTnudlbEI/AAAAAAAAATQ/ytK7AO5ImWY/s1600-h/epis+islam+%282%29.jpg"><img style="float:left;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sTnudlbEI/AAAAAAAAATQ/ytK7AO5ImWY/s200/epis+islam+%282%29.jpg" border="0" alt="" /></a><br />
Judul Buku : Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam<br />
Penulis : Dr. Mulyadhi Kartanegara<br />
Penerbit : Mizan, Bandung<br />
Cetakan : Pertama, 2003<br />
Tebal : xxxvi + 188 halaman</p>
<p>SEBAGAI kajian filosofis, epistemologi (teori pengetahuan) secara umum belum mencapai tingkat kajian yang memadai di negeri ini. Beberapa buku tentang epistemologi yang ditulis oleh sarjana Indonesia masih belum betul-betul menyentuh atau mewakili intisari epistemologi, karya Prof. Juhaya S. Praja misalnya, tidak berbicara tentang epistemologi Islam yang lebih komprehensif sebgaimana yang disajikan oleh para Filosuf muslim. Dan beberapa buku lain yang pembahasannya masih bersifat deskriptif tanpa adanya analisis perbandingan atau kritik.<span id="more-127"></span></p>
<p>Meskipun demikian, harus diakui bahwa kajian epistemologi dan filsafat ilmu (epistemologi Barat) secara umum sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kajian epstemoligi Islam. Sehingga tidak mengherankan jika wacana ilmiah begitu didomonasi oleh Barat, dan kebanyakan sarjana kita hanya mengerti teori ilmu pengetahuan Barat jarang sekali yang dengan serius mendalami teori-teori ilmu pengetahuan Islam.</p>
<p>Tidak salah jika kemudian di dunia keilmuan muncul Distorsi oleh epistimologi Barat terhadap epistemologi Islam, dalam penggunaan kata science yang dibedakan dengan knowledge mislanya, telah melahirkan perbedaan yang fundamental antara teori pengetahuan Barat dengan teori pengetahuan Islam. Sehingga diperlukan suatu kejelasan dalam perbedaan yang fundamen tersebut karena jika tidak bisa menimbulkan kekaburan dan kesalahpahaman yang mendalam terhadap keduanya.</p>
<p>Lewat karyanya yang berjudul &#8220;Menyibak Tirai Kejahilan, Pengantar Epistemologi Islam&#8221; yang berpijak pada karya sebelumnya &#8220;Menembus Batas Waktu, Panorama Filsafat Islam&#8221; Mulyadhi mencoba mendedahkan perbedaan fundamen dalam teori pengetahuan tersebut dan mendialogkan diantara keduanya secara kreatif dan kritis yang diharapkan mampu melahirkan epistemologi alternatif. Dalam mengawali karyanya Mulyadhi ingin menjelaskan tentang konsep-konsep kunci dalam wacana epistemologi, seperti sains, ilmu, opini, filsafat, agama, indra, akal dan hati. Definisi &#8220;sains&#8221;yang biasanya disamakan dengan pengetahuan (knowledge) bagi Mulyadhi tidak pernah memiliki suatu kejelasan, seperti peletakan science dengan ilmu, istilah ilmu terkadang dipandang sama dengan sains, tapi kadang justru disamakan dengan knowledge atau &#8220;pengetahuan&#8221;.<br />
Istilah ilmu pengetahuan terkadang juga dipakai untuk merujuk sains yang dibedakan dengan pengetahuan (knowledge). Menurut Mulyadhi istilah ilmu dalam epistemologi Islam memiliki kemiripan dengan istilah science dalam epistemologi Barat. Sebagaimana sains dalam epistemologi Barat dibedakan dengan knowledge, ilmu dalam epistemologi Islam dibedakan dengan opini (ra&#8217;y) sementara sains dipandang sebagai any organized knowledge, ilmu didefinisikan sebagai &#8220;pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya&#8221;(hal. 1).</p>
<p>Dengan demikian istilah ilmu bukan sembarang pengetahuan atau opini melainkan pengatahuan yang sudah teruji kebenarannya, dan Mulyadhi mendefinisikan ilmu sebagai &#8220;pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya&#8221;. Ilmu dalam kajian epistemologi Barat penerapannya dibatasi pada bidang-bidang ilmu fisik atau empiris, sedangkan dalam epistemologi Islam ia dapat diterapkan dengan sama validnya baik ilmu-ilmu yang yang fisik-empiris maupun nonfisik atau metafisik. Perbedaan yang fundamen inilah barangkali yang perlu dijelaskan dalam kajian epistemologi menurut Mulyadhi, karena jika tidak akan membawa pada kekaburan dan kesalahpahaman dalam kajian teori pengetahuan (epistemologi).</p>
<p>Paling tidak ada dua pertanyaan yang tidak bisa ditinggalkan dalam setiap sistem epistemologi manapun: pertama, apa yang dapat kita ketahui? Kedua, bagaimana mengetahuinya? Dimana yang pertama mengacu pada teori dan isi ilmu, sementara yang kedua pada metodologi.</p>
<p>Pertanyaan apa yang dapat kita ketahui? Epistemologi Barat memberikan jawaban bahwa yang dapat kita ketahui adalah segala sesuatu sejauh ia dapat diobservasi secara indrawi. Hal-hal lain yang bersifat nonindrawi, nonfisik dan metafisik tidak termasuk ke dalam objek yang dapat diketahui secara ilmiah. Sedanngkan dalam epistemologi Islam kita bisa mengetahui tidak sebatas pada obyek-obyek fisik namun juga nonfisik. Sehingga dalam menentukan keberadaan sesuatu atau status ontologis sesuatu Barat hanya percaya pada benda-benda yang dapat dicerap oleh indra dan cenderung menolak status ontologis dari entitas-entitas nonfisik seperti ide-ide matematika, konsep-konsep mental dan entitas-entitas imajinal dan spiritual. Berbeda dengan Barat, Islam mengakui status ontologis tidak terbatas pada obyek-obyek indrawi melainkan juga obyek-obyek nonindrawi.</p>
<p>Untuk pertanyaan kedua, berkaitan dengan jawaban dari pertanyaan yang pertama metode ilmiah yang dikembangkan oleh para pemikir dan filosuf Barat hanya menggunakan satu metode yaitu metode observasi. Sementara Islam menggunakan tiga macam metode sesuai dengan tingkat atau hierarki obyek-obyeknya, yaitu (1)metode observasi, (2)metode logis atau demonstratif (burhani) (3)metode intuitif (&#8216;irfan) yang masing-masing bersumber pada indra akal dan hati. Setiap cabang ilmu yang dihasilkan oleh epistemologi tidak akan pernah mencapai status ilmiah yang pas kecuali status ontologis obyeknya jelas dan dapat diakui.</p>
<p>Berdasarkan uraian di atas jelas klasisfikasi ilmu yang ada di Barat akan selalu didasarkan pada satu hal yaitu empiris-observatif ditambah dengan bidang ilmu matematika, tapi secara tegas menolak bidang metafisika yang obyek-obyeknya sering dipandang tidak riil dan ilusif. Sedangkan dalam Islam yang mengakui adanya status ontologis yang tidak terbatas pada fisik-empiris melainkan juga yang nonempiris atau metafisis, dalam teori pengetahuan Islam ilmu dibagi menjadi tiga klasifikasi yaitu: ilmu-ilmu metafisika, ilmu-ilmu matematika, dan ilmu-ilmu alam atau fisik.</p>
<p>Selain beberapa hal yang telah dijelaskan diatas tentang sumber pengetahuan dalam epistemologi Islam, pengalaman mistik, penalaran rasional dan filsafat kenabian dalam teori pengetahuan Islam juga termasuk sumber pengetahuan. Bukan bermaksud membenci atau anti sains Barat, begitulah pembelaan yang diungkapkan Mulyadhi dalam kajian buku pengantar epistemologi ini, dan baginya tidak lain hanya mencoba bersikap kritis dan apresiatifnya terhadap sains Barat.</p>
<p>Dengan jalan membandingkannya dengan epistemologi lain yang dalam hal ini adalah epistemologi Islam yang diharapkan mampu melahirkan teori pengetahuan yang lebih baik atau sering kita harapkan yaitu munculnya epistemologi alternatif. Buku pengantar yang ditulis atas hasil perkuliahan penulis bersama para mahasiswanya di Pasca Sarjana IAIN SU-KA ini paling tidak menjadi terobosan awal dalam kajian epistemologi (teori pengetahuan) yang di negeri ini masih sangat minim dan belum mapan. Dimana dengan mengkaji teori pengetahuan secara kritis dan komprehensif serta komparatif nantinya diharapkan mampu melahirkan teori pengetahuan alternatif yang lebih baik.</p>
<p>Moh. Yasin, Mahasiswa S-2 ICAS-Paramadina Jakarta. A branch of ICAS-London</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/acinmuhdor.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/acinmuhdor.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/acinmuhdor.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/acinmuhdor.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/acinmuhdor.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/acinmuhdor.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/acinmuhdor.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/acinmuhdor.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/acinmuhdor.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/acinmuhdor.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/acinmuhdor.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/acinmuhdor.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/acinmuhdor.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/acinmuhdor.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=acinmuhdor.wordpress.com&amp;blog=9436500&amp;post=127&amp;subd=acinmuhdor&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://acinmuhdor.wordpress.com/2010/01/29/127/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/5469976eefc51df4568df18c8d0c4eb6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">4c1n</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bp0.blogger.com/_I-lWCj7pfbo/R_sTnudlbEI/AAAAAAAAATQ/ytK7AO5ImWY/s200/epis+islam+%282%29.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
